Dr. Suhardin, S. Ag., M. Pd. (Ketua LPLH&SDA MUI)
El Niño merupakan fenomena iklim global yang lahir dari interaksi antara laut dan atmosfer di Samudra Pasifik tropis. Namanya berasal dari bahasa Spanyol yang berarti “anak laki-laki”. Meskipun terjadi ribuan kilometer dari Indonesia, perubahan suhu laut tersebut mampu memengaruhi pola angin, pembentukan awan, curah hujan, pertanian, ketersediaan air, kebakaran hutan, kesehatan, dan kehidupan ekonomi masyarakat Indonesia.
Pada 2026, El Niño kembali menjadi perhatian serius. BMKG mencatat bahwa El Niño telah mencapai kategori kuat dan berpotensi berkembang menjadi sangat kuat. Fenomena ini diperkirakan memperkuat musim kemarau, terutama ketika puncaknya berlangsung pada Agustus–September. Namun, El Niño perlu dipahami secara tepat: El Niño bukanlah musim kemarau, melainkan fenomena iklim yang dapat membuat musim kemarau menjadi lebih kering dan lebih panjang ketika keduanya terjadi bersamaan.
Dalam kondisi normal, angin pasat bertiup dari timur ke barat di sepanjang Samudra Pasifik tropis. Angin tersebut mendorong massa air hangat menuju wilayah Pasifik barat, termasuk perairan sekitar Indonesia dan Australia. Karena suhu laut hangat, penguapan meningkat, awan terbentuk, dan hujan relatif banyak turun di kawasan Indonesia.
Pada saat El Niño terjadi, angin pasat melemah, bahkan dalam keadaan tertentu dapat berubah arah. Air hangat yang biasanya terkumpul di Pasifik barat bergeser menuju Pasifik tengah dan timur. Akibatnya, suhu permukaan laut di wilayah tersebut menjadi lebih tinggi daripada kondisi normal. Pusat penguapan dan pembentukan awan pun ikut bergeser menjauh dari Indonesia.
BMKG menjelaskan bahwa ketika El Niño berlangsung, wilayah pertumbuhan awan berpindah dari kawasan Indonesia menuju Samudra Pasifik bagian tengah. Pergeseran inilah yang menyebabkan curah hujan di sebagian besar wilayah Indonesia berkurang. Pada periode Juni–November, penurunan curah hujan di sejumlah wilayah bahkan dapat melebihi 40 persen dibandingkan kondisi normal. Meskipun demikian, El Niño tidak berarti bahwa hujan sama sekali tidak turun.
El Niño merupakan fenomena alam yang telah terjadi berulang kali sepanjang sejarah. Akan tetapi, pemanasan global dapat memperberat risiko yang menyertainya. Suhu dasar bumi yang semakin tinggi membuat kekeringan, gelombang panas, kebakaran hutan, dan gangguan ekosistem berpotensi menjadi lebih parah. Dengan demikian, El Niño memang bukan akibat langsung perubahan iklim, tetapi dampaknya dapat bertemu dan saling memperkuat dengan krisis iklim yang sedang berlangsung.
Dampak Ekologis: Dari Krisis Air hingga Kebakaran Hutan
Dampak ekologis pertama yang paling mudah dirasakan adalah berkurangnya ketersediaan air. Curah hujan yang menurun menyebabkan debit sungai, mata air, waduk, embung, dan air tanah berkurang. Persediaan air bersih bagi rumah tangga, pertanian, peternakan, industri, dan pembangkit listrik kemudian berada dalam tekanan.
Dampak berikutnya adalah kekeringan lahan pertanian. Tanah kehilangan kelembapan, tanaman mengalami stres air, masa tanam terganggu, dan risiko gagal panen meningkat. Kekeringan yang panjang juga menurunkan kualitas tanah karena organisme tanah terganggu, bahan organik berkurang, dan erosi mudah terjadi ketika hujan kembali turun secara tiba-tiba.
El Niño juga meningkatkan ancaman kebakaran hutan dan lahan. Vegetasi yang mengering menjadi bahan bakar yang mudah terbakar. Di kawasan gambut, api dapat menjalar ke bawah permukaan tanah, sulit dideteksi, dan sangat sukar dipadamkan. Kebakaran tidak hanya memusnahkan pepohonan, tetapi juga menghancurkan habitat satwa, menurunkan keanekaragaman hayati, menghasilkan kabut asap, serta melepaskan karbon dalam jumlah besar ke atmosfer. Karbon tersebut selanjutnya memperburuk pemanasan global sehingga terbentuk lingkaran krisis: suhu meningkat, kekeringan menguat, kebakaran meluas, dan emisi kembali bertambah.
Ekosistem perairan pun tidak luput dari tekanan. Berkurangnya debit sungai menyebabkan kualitas air memburuk dan konsentrasi pencemar meningkat. Suhu laut yang tinggi dapat mengganggu rantai makanan, mengubah persebaran ikan, serta meningkatkan tekanan terhadap terumbu karang. Semua itu memperlihatkan bahwa El Niño bukan hanya persoalan “cuaca panas”, melainkan gangguan terhadap hubungan yang saling bergantung antara air, tanah, tumbuhan, satwa, dan manusia.
Dampak Ekonomi dan Sosial
Ketika produksi padi, jagung, kedelai, sayuran, dan berbagai komoditas perkebunan menurun, pasokan pangan dapat berkurang dan harga berpotensi meningkat. Petani merupakan kelompok yang paling awal merasakan kerugian karena harus menanggung biaya benih, pupuk, tenaga kerja, dan irigasi, sementara hasil panen belum tentu mencukupi.
Kenaikan harga pangan kemudian menekan daya beli masyarakat, terutama keluarga berpenghasilan rendah. Kelompok ini membelanjakan sebagian besar pendapatannya untuk kebutuhan pokok sehingga sedikit kenaikan harga dapat memengaruhi kualitas makanan, kesehatan, dan pendidikan anak. Dengan demikian, krisis iklim hampir tidak pernah berdampak secara merata. Masyarakat miskin, petani kecil, nelayan tradisional, perempuan, anak-anak, lansia, dan warga di daerah kekurangan air biasanya menanggung akibat yang lebih besar.
Sektor energi juga menghadapi tekanan. Menurunnya debit air dapat mengurangi kemampuan pembangkit listrik tenaga air. Pada saat yang sama, cuaca panas meningkatkan kebutuhan pendinginan dan konsumsi listrik. Dunia usaha harus mengeluarkan biaya tambahan untuk air, energi, bahan baku, serta perlindungan tenaga kerja dari paparan panas dan asap.
Kabut asap akibat kebakaran hutan menambah beban ekonomi melalui meningkatnya penyakit saluran pernapasan, terganggunya pendidikan, menurunnya produktivitas kerja, tertundanya penerbangan, dan terhambatnya kegiatan perdagangan. El Niño akhirnya bukan semata-mata persoalan meteorologi, tetapi juga persoalan ketahanan pangan, kesehatan masyarakat, kemiskinan, keadilan sosial, dan keberlanjutan pembangunan.
El Niño dalam Perspektif Ekoteologi Islam
Islam memandang alam bukan sekadar kumpulan benda yang dapat dieksploitasi tanpa batas. Alam adalah ciptaan Allah, tanda-tanda kebesaran-Nya, dan ruang kehidupan yang diamanahkan kepada manusia. Karena itu, menghadapi El Niño memerlukan ilmu pengetahuan sekaligus kesadaran spiritual dan tanggung jawab moral.
Allah Swt. berfirman:
“Telah tampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia, agar Allah merasakan kepada mereka sebagian dari akibat perbuatan mereka, supaya mereka kembali.”
(QS. Ar-Rūm [30]: 41)
Ayat ini tidak boleh dipahami bahwa setiap El Niño merupakan hukuman langsung atas dosa tertentu. El Niño adalah fenomena alam yang dapat dijelaskan secara ilmiah. Namun, kerugian akibatnya dapat menjadi semakin berat karena tindakan manusia: penggundulan hutan, pembakaran lahan, perusakan gambut, pencemaran air, pembangunan yang menghilangkan daerah resapan, konsumsi berlebihan, dan emisi gas rumah kaca.
Dengan demikian, ayat tersebut mengajak manusia melakukan muhasabah ekologis. Bencana alam dapat berubah menjadi bencana kemanusiaan ketika manusia merusak sistem perlindungan alam dan mengabaikan kelompok yang paling rentan.
Allah juga mengingatkan:
“Dan janganlah kamu berbuat kerusakan di bumi setelah diciptakan dengan baik.”
(QS. Al-A‘rāf [7]: 56)
Larangan membuat kerusakan mencakup segala perbuatan yang menghancurkan keseimbangan kehidupan. Membakar hutan, membuang limbah ke sungai, menguras air tanah tanpa kendali, dan mengeksploitasi sumber daya melebihi daya pulih alam bukan hanya kesalahan teknis, tetapi juga pelanggaran terhadap amanah keagamaan.
Air sendiri memperoleh kedudukan sangat penting dalam Al-Qur’an:
“Dan Kami jadikan segala sesuatu yang hidup berasal dari air.”
(QS. Al-Anbiyā’ [21]: 30)
Ayat tersebut sejalan dengan kenyataan ekologis bahwa semua kehidupan bergantung pada air. Karena itu, menghemat air saat El Niño bukan sekadar tindakan ekonomis, melainkan wujud syukur dan penghormatan terhadap sumber kehidupan. Menjaga mata air, melindungi hutan, membangun sumur resapan, memanen air hujan, dan mendistribusikan air secara adil merupakan bagian dari pengamalan nilai agama.
Manusia juga diberi tugas untuk memakmurkan bumi:
“Dia telah menciptakan kamu dari bumi dan menjadikan kamu pemakmurnya.”
(QS. Hūd [11]: 61)
Menjadi pemakmur bumi berarti mengelola sumber daya untuk kesejahteraan bersama tanpa menghancurkan hak generasi mendatang. Kekhalifahan manusia bukanlah izin untuk menguasai alam secara sewenang-wenang, tetapi tanggung jawab untuk merawat keseimbangannya.
Rasulullah SAW memberikan landasan etis yang sangat kuat mengenai penghijauan. Beliau bersabda:
“Tidaklah seorang Muslim menanam tanaman atau menabur benih, lalu dimakan oleh burung, manusia, atau hewan, melainkan hal itu menjadi sedekah baginya.”
(HR. al-Bukhari dan Muslim)
Hadis ini memperluas pengertian sedekah. Sedekah tidak hanya diberikan dalam bentuk uang, tetapi juga melalui pohon yang menghasilkan oksigen, menyerap air, menurunkan suhu, menahan erosi, menyediakan pangan, dan menjadi habitat makhluk hidup. Menanam pohon dalam menghadapi kekeringan dan pemanasan global merupakan ibadah sosial sekaligus ekologis.
Dalam hadis lain, Rasulullah saw. bersabda:
“Sesungguhnya dunia ini manis dan hijau, dan Allah menjadikan kamu sebagai pengelola di dalamnya, lalu Dia memperhatikan bagaimana kamu berbuat.”
(HR. Muslim)
Kata “hijau” memberikan gambaran tentang bumi yang hidup dan produktif, sedangkan kedudukan manusia sebagai pengelola mengandung unsur pertanggungjawaban. Manusia boleh menggunakan alam, tetapi tidak boleh menghilangkan kemampuan alam untuk menopang kehidupan.
Semangat menjaga keberlanjutan juga tergambar dalam hadis populer:
“Jika Kiamat terjadi sementara di tangan salah seorang di antara kalian terdapat bibit kurma, dan ia mampu menanamnya sebelum Kiamat terjadi, maka tanamlah.”
(HR. Ahmad; dinilai sahih oleh sejumlah ulama hadis)
Pesannya sangat mendalam: bahkan ketika hasilnya belum tentu sempat dinikmati, manusia tetap diperintahkan menanam. Islam mengajarkan optimisme ekologis—terus merawat kehidupan, bukan menyerah kepada kerusakan.
Dari Peringatan Dini Menuju Tindakan Dini
Menghadapi El Niño tidak cukup dengan menunggu datangnya kekeringan. Informasi iklim harus diterjemahkan menjadi tindakan nyata. Pemerintah perlu memperkuat sistem peringatan dini, cadangan pangan, perlindungan petani, pengelolaan waduk, restorasi gambut, pengendalian kebakaran, pelayanan kesehatan, dan distribusi air bagi masyarakat rentan.
Petani perlu memperoleh informasi kalender tanam, menggunakan varietas tahan kekeringan, memperbaiki irigasi, menerapkan diversifikasi tanaman, serta mengembangkan pertanian hemat air. Dunia usaha perlu menjamin penggunaan air secara bertanggung jawab dan tidak mengambil sumber daya dengan mengorbankan kebutuhan dasar masyarakat.
Masjid, pesantren, sekolah, kampus, dan organisasi keagamaan juga dapat menjadi pusat gerakan ketahanan iklim. Gerakannya dapat berupa penanaman pohon, pembuatan sumur resapan, panen air hujan, pengurangan sampah, edukasi hemat air, pemantauan titik api, lumbung pangan komunitas, serta bantuan kepada keluarga yang terdampak kekeringan.
Pada tingkat pribadi, setiap orang dapat memulai dari tindakan sederhana: tidak membakar sampah dan lahan, menghemat air, menjaga pohon, mengurangi pemborosan makanan, mendukung produk yang ramah lingkungan, serta membantu masyarakat yang mengalami krisis air dan pangan. Kesalehan ekologis harus tampak dalam perilaku sehari-hari, bukan berhenti pada ceramah dan slogan.
El Niño mengajarkan bahwa bumi merupakan satu kesatuan. Perubahan suhu laut di Samudra Pasifik dapat memengaruhi sawah di Jawa, hutan di Kalimantan, lahan gambut di Sumatra, peternakan di Nusa Tenggara, dan harga pangan di pasar. Tidak ada bagian alam yang benar-benar berdiri sendiri.
Dalam perspektif teologis, El Niño dapat dibaca sebagai ayat kauniyah, yaitu tanda kebesaran Allah yang bekerja melalui hukum-hukum alam. Ilmu pengetahuan membantu manusia memahami mekanismenya, sedangkan agama memberikan arah moral dalam menyikapinya. Sains menjelaskan apa yang sedang terjadi; iman menuntun manusia menentukan apa yang seharusnya dilakukan.
Karena itu, menghadapi El Niño harus melahirkan tiga kesadaran: kesadaran ilmiah untuk memahami gejala alam, kesadaran sosial untuk melindungi kelompok rentan, dan kesadaran teologis untuk menjaga bumi sebagai amanah Allah. Tawakal bukan berarti pasrah tanpa ikhtiar. Tawakal justru harus didahului oleh perencanaan, mitigasi, kerja sama, dan tindakan nyata.
El Niño pada akhirnya bukan hanya ujian terhadap kemampuan manusia meramalkan iklim, tetapi juga ujian terhadap cara kita memperlakukan air, hutan, pangan, sesama manusia, dan seluruh kehidupan. Bumi bukan warisan yang boleh dihabiskan, melainkan amanah yang harus dirawat dan diteruskan kepada generasi yang akan datang. Wallahu ‘alam.
